Rabu, 01 Oktober 2014

Definisi Kejujuran & Ketidak Jujuran

Ø  KEJUJURAN



Seberapa besarkah kejujuran dalam ilmu pengetahuan telah dilaksanakan seperti halnya dalam bidang kehidupan yang lain, misalnya ketaatan pada rambu lalu lintas?Dan berbagai pendapat menyangkut kejujuran dalam ilmu ini.
Harus disadari bahwa para ilmuwan dalam kapasitasnya sebagai manusia dapat membuat kesalahan, lalai atau salah menafsirkan bagian penting mengenai bukti dan kadang-kadang dengan sengaja ilmuwan memalsukan hasil penelitiannya. Walaupun kesalahan, kelalaian, kebiasaan curang, dan ketidakjujuran yang terjadi dalam ilmu pengetahuan masih sedikit terjadi, namun ada kecenderungan peningkatannya setiap waktu dimana kecurangan ilmiah telah terbongkar dari waktu ke waktu.

Lalu, bagaimana tanggapan para ilmuwan sendiri?

Ada banyak ilmuwan yang percaya pada kenyataan bahwa mereka adalah manusia yang dapat membuat kekeliruan, yang mana kesalahan, kelalaian dan perilaku tidak beradab merupakan hal biasa dalam ilmu pengetahuan.
1)      Para ilmuwan yang lain merasakan bahwa hal diatas tidak saja buruk bagi gambaran mengenai ilmu pengetahuan, tetapi sesungguhnya itu tidak benar. Mengapa? Karena mereka percaya bahwa peneliti dapat menghindari godaan dan kelemahan yang secara umum mempengaruhi manusia. Ilmuwan dapat berbuat salah, tetapi ilmu pengetahuan mampu melakukan koreksi sendiri.
2)      Sebagai ilmuwan berpendapat bahwa kesalahan harus dihukum seberat kesurangan murni.Ilmuwan dapat mengetahui bahwa suatu kekeliruan itu terjadi secara kebetulan atau dengan disengaja, tetapi orang lain tidak mungkin mengetahuinya.
3)      Sebagai ilmuwan setuju bahwa kecerobohan layak dihukum, tetapi mereka percaya bahwa menghukum semua jenis dengan sama beratnya adalah mengabaikan salah satu sifat ilmu pengetahuan yang paling penting, yaitu sangat sulit mengetahui yang benar dan yang tidak benar.
4)      Ketelitan dalam penelitian dan pelaporan hasil penelitian menjadi begitu penting.\

Membangun nilai kejujuran tidaklah mudah karena berbagai hal seperti diungkapkan di atas. Pembelaan khusus, yang didasarkan pada faktor kelelahan, kesulitan keluarga atau faktor lainnya, hanyalah sekadar pembelaan khusus. Banyak ilmuwan lain bekerja di bawah tekanan seperti itu, mengalami godaan yang sama untuk berbuat curang, tetapi dia tetap jujur. Ilmuwan tersebut patut menerima perlindungan lebih daripada mereka yang tidak bermoral yang mendapat simpati.  
                                               




Ø  Bentuk-bentuk Ketidakjujuran Dalam Ilmu

Beberapa tokoh penting yang memberi perhatian pada masalah ketidakjujuran dalam ilmu, seperti Charles Babbage (1792-1871) dan Charles Lyell, menyebutkan bentuk-bentuk ketidakjujuran dalam ilmu, seperti:

1)          Perampingan (trimming)
melicinkan ketidakteraturan agar data kelihatan benar-benar teliti dan tepat. Artinya, tingkat ketelitian diciptakan sedemikian rupa sehingga mencapai hasil yang tinggi atau setepat/sesempurna mungkin. Godaan yang paling besar terjadi pada percobaan-percobaan fisika yang sering menciptakan data yang mulus/cantik, yang apabila diperiksa dengan teliti tidak lebih sebagai hasil dari kecurangan yang disengaja.

2)          Penggodokan (cooking)
hanya mempergunakan hasil yang sesuai dengan teori dan membuang hasil lainnya. Salah satu kasus terbaik tentang penggodokan (cooking) adalah mengenai ahli ilmu fisika Robert A. Millikan yang menerima hadiah nobel pada tahun 1923 karena percobaannya tentang muatan elektronik. Lebih dari setengah abad kemudian ditemukan bahwa dalam penelitiannya itu ternyata ada 49 butiran yang telah dibuang. Keadaan inilah yang disebut dengan menggodok data.

3)          Pemalsuan/Falsifikasi (forging)
mengarang sebagian atau semua data yang dilaporkan, dan bahkan melaporkan percobaan-percobaan untuk memperoleh data  penelitian yang tidak pernah dilakukan. Sebagian contoh sama disengajanya dengan contoh pada perampingan dan penggodokan, sebagian muncul terutama akibat kecurangan. Sebagian harus diklasifikasikan sebagai kebohongan yang disengaja, karena kelihatannya tidak mungkin mereka yang reputasi ilmiahnya dibangun atas “penemuan” seperti itu dapat menjadi orang yang justru menanamkan bukti yang salah.

4)          Penjiplakan (plagiarism) 
sama dengan ketidakjujuran. Sangat disayangkan banyak ilmuwan cenderung lebih memperhatikan penjiplakan ketimbang bentuk-bentuk kecurangan lain. Ini tidak disebabkan penjiplakan lebih buruk, ataupun karena para ilmuwan tersebut percaya demikian. Namun, terus terang, penjiplakan lebih mudah dibongkar. Untuk membuktikan bahwa seseorang merampingkan  atau menggodok hasil-hasil percobaannya, atau bahkan memalsukan semuanya, biasanya membutuhkan waktu yang lama dan merupakan pekerjaan yang membosankan, sehingga ilmuwan lebih suka menghindarinya. Namun, jika kita jelas sekali mengutip penelitian orang lain seperti kepunyaan sendiri, jauh lebih sedikit penyidikan yang perlu dilakukan.




Ø  Upaya yang dilakukan untuk Mengatasi Ketidakjujuran Dalam Ilmu
Adalah dengan mengamankan diri sendiri, dengan cara :
     
      *  Tidak Menjadi Pelaku

Untuk menghindari penjiplakan dan perilaku tidak jujur biasanya cukup dengan berterus terang. Tidak dipungkiri bahwa ada godaan yang begitu besar untuk melakukan perampingan, penggodokan, pemalsuan/falsifikasi dan pencurian dalam ilmu, tapi kita seharusnya cepat sadar untuk menentangnyaatau untuk tidak menyerah. Jika kita menyerah, kita berusaha merasionalkan tindakan itu, tetapi jika kita jujur dengan diri sendiri, biasanya kita dapat menyadari apa arti rasionalisasi ini yang merupakan suatu pertahanan yang tidak dapat dipertahankan.
           Kita harus berusaha untuk mengembangkan kebiasaan kritis yang objektif dalam penelitian seseorang yang merupakan salah satu karakteristik paling sulit dan penting dari seorang sarjana sejati. Sebelum meminta nasihat dari orang lain, kita harus menganalisis terlebih dahulu dengan kritikan sejauh yang diketahui, untuk meyakinkan bahwa penelitian itu tepat dan memperoleh pengakuan yang layak dari orang yang menolong kita, atau orang yang penelitiannya dikutip.
                 
      * Tidak Menjadi Korban
           
              Proses menjadi seorang ilmuwan, melalui perolehan gelar penelitian dan kemudian dilanjutkan ke penelitian pascadoktor yang bekerja sama dengan orang lain, harus menjadi salah satu periode yang memacu, memuaskan, dan bermanfaat bagi hidup seseorang. Sebagian besar dari kita tidak akan melupakan pengalaman tersebut, termasuk bantuan dan persahabatan yang diterima dari penasihat penelitian dan dari mereka yang memiliki harapan yang sama akan masa depan seperti kita. Sehubungan dengan hal tersebut,  ada ungkapan: “adanya beberapa apel jelek pada setiap pohon tidak akan membuat kita untuk tidak memakan buah”.

Hal yang dapat menghancurkan atau mencegah timbulnya perasaan umum tersebut dalam sekelompok ilmuwan/peneliti adalah persaingan (kompetisi) yang berlebihan. Kompetisi merupakan bagian dari penelitian dan kesenangan. Pada tingkat individu, kompetisi merupakan sesuatu yang tidak dapat dihindarkan dan bahkan sehat. Kompetisi adalah sesuatu hal yang baik, tetapi kompetisi yang berlebihan antarkelompok penelitian atau di antara individu-individu dalam satu kelompok, menjadi hal yang berbeda. Keburukan lain adalah ketika satu kelompok atau individu mengambil keuntungan dengan cara…… mencuri. Maka, perlu hati-hati dan selektif dalam berdiskusi dengan ilmuwan lain untuk meminimalkan terjadinya pencurian gagasan penelitian yang bisa saja terjadi pada saat diskusi itu. Tetapi jangan juga terlalu berasumsi  dari awal atau curiga bahwa pencurian gagasan maupun data pasti terjadi.