Ø KEJUJURAN
Seberapa besarkah kejujuran dalam ilmu pengetahuan telah
dilaksanakan seperti halnya dalam bidang kehidupan yang lain, misalnya ketaatan
pada rambu lalu lintas?Dan berbagai pendapat menyangkut kejujuran dalam ilmu
ini.
Harus disadari bahwa para ilmuwan dalam kapasitasnya sebagai
manusia dapat membuat kesalahan, lalai atau salah menafsirkan bagian penting mengenai
bukti dan kadang-kadang dengan sengaja ilmuwan memalsukan hasil penelitiannya. Walaupun kesalahan, kelalaian,
kebiasaan curang, dan ketidakjujuran yang terjadi dalam ilmu pengetahuan masih
sedikit terjadi, namun ada kecenderungan peningkatannya setiap waktu dimana
kecurangan ilmiah telah terbongkar dari waktu ke waktu.
Lalu, bagaimana tanggapan para ilmuwan sendiri?
Ada banyak ilmuwan yang percaya pada
kenyataan bahwa mereka adalah manusia yang dapat membuat kekeliruan, yang mana
kesalahan, kelalaian dan perilaku tidak beradab merupakan hal biasa dalam ilmu
pengetahuan.
1)
Para ilmuwan yang lain merasakan bahwa hal diatas tidak saja
buruk bagi gambaran mengenai ilmu pengetahuan, tetapi sesungguhnya itu tidak
benar. Mengapa? Karena mereka percaya bahwa peneliti dapat menghindari godaan
dan kelemahan yang secara umum mempengaruhi manusia. Ilmuwan dapat berbuat
salah, tetapi ilmu pengetahuan mampu melakukan koreksi sendiri.
2) Sebagai ilmuwan berpendapat bahwa
kesalahan harus dihukum seberat kesurangan murni.Ilmuwan dapat mengetahui bahwa
suatu kekeliruan itu terjadi secara kebetulan atau dengan disengaja, tetapi
orang lain tidak mungkin mengetahuinya.
3) Sebagai ilmuwan setuju bahwa
kecerobohan layak dihukum, tetapi mereka percaya bahwa menghukum semua jenis
dengan sama beratnya adalah mengabaikan salah satu sifat ilmu pengetahuan yang
paling penting, yaitu sangat sulit mengetahui yang benar dan yang tidak benar.
4)
Ketelitan dalam penelitian dan pelaporan hasil penelitian
menjadi begitu penting.\
Membangun nilai kejujuran tidaklah mudah karena berbagai
hal seperti diungkapkan di atas. Pembelaan khusus, yang didasarkan pada faktor
kelelahan, kesulitan keluarga atau faktor lainnya, hanyalah sekadar pembelaan
khusus. Banyak ilmuwan lain bekerja di bawah tekanan seperti itu, mengalami
godaan yang sama untuk berbuat curang, tetapi dia tetap jujur. Ilmuwan tersebut
patut menerima perlindungan lebih daripada mereka yang tidak bermoral yang
mendapat simpati.
Ø Bentuk-bentuk Ketidakjujuran Dalam Ilmu
Beberapa tokoh penting yang memberi perhatian pada masalah ketidakjujuran
dalam ilmu, seperti Charles Babbage (1792-1871) dan Charles Lyell, menyebutkan
bentuk-bentuk ketidakjujuran dalam ilmu, seperti:
1)
Perampingan (trimming)
melicinkan ketidakteraturan agar data kelihatan benar-benar
teliti dan tepat. Artinya, tingkat ketelitian diciptakan sedemikian rupa
sehingga mencapai hasil yang tinggi atau setepat/sesempurna mungkin. Godaan
yang paling besar terjadi pada percobaan-percobaan fisika yang sering
menciptakan data yang mulus/cantik, yang apabila diperiksa dengan teliti tidak
lebih sebagai hasil dari kecurangan yang disengaja.
2)
Penggodokan (cooking)
hanya mempergunakan hasil yang sesuai dengan teori dan
membuang hasil lainnya. Salah satu kasus terbaik tentang penggodokan (cooking) adalah mengenai ahli
ilmu fisika Robert A. Millikan yang menerima hadiah nobel pada tahun 1923
karena percobaannya tentang muatan elektronik. Lebih dari setengah abad
kemudian ditemukan bahwa dalam penelitiannya itu ternyata ada 49 butiran yang telah
dibuang. Keadaan inilah yang disebut dengan menggodok data.
3)
Pemalsuan/Falsifikasi (forging)
mengarang sebagian atau semua data yang dilaporkan, dan
bahkan melaporkan percobaan-percobaan untuk memperoleh data penelitian
yang tidak pernah dilakukan. Sebagian contoh sama disengajanya dengan contoh
pada perampingan dan penggodokan, sebagian muncul terutama akibat kecurangan.
Sebagian harus diklasifikasikan sebagai kebohongan yang disengaja, karena
kelihatannya tidak mungkin mereka yang reputasi ilmiahnya dibangun atas
“penemuan” seperti itu dapat menjadi orang yang justru menanamkan bukti yang
salah.
4)
Penjiplakan (plagiarism)
sama dengan ketidakjujuran. Sangat disayangkan banyak
ilmuwan cenderung lebih memperhatikan penjiplakan ketimbang
bentuk-bentuk kecurangan lain. Ini tidak disebabkan penjiplakan lebih buruk,
ataupun karena para ilmuwan tersebut percaya demikian. Namun, terus terang,
penjiplakan lebih mudah dibongkar. Untuk membuktikan bahwa seseorang
merampingkan atau menggodok hasil-hasil percobaannya, atau bahkan
memalsukan semuanya, biasanya membutuhkan waktu yang lama dan merupakan
pekerjaan yang membosankan, sehingga ilmuwan lebih suka menghindarinya. Namun,
jika kita jelas sekali mengutip penelitian orang lain seperti kepunyaan
sendiri, jauh lebih sedikit penyidikan yang perlu dilakukan.
Ø Upaya yang dilakukan untuk Mengatasi Ketidakjujuran Dalam
Ilmu
Adalah
dengan mengamankan diri sendiri, dengan cara :
* Tidak
Menjadi Pelaku
Untuk menghindari penjiplakan dan perilaku tidak jujur
biasanya cukup dengan berterus terang. Tidak dipungkiri bahwa ada godaan yang
begitu besar untuk melakukan perampingan, penggodokan, pemalsuan/falsifikasi
dan pencurian dalam ilmu, tapi kita seharusnya cepat sadar untuk
menentangnyaatau untuk tidak menyerah. Jika kita menyerah, kita berusaha
merasionalkan tindakan itu, tetapi jika kita jujur dengan diri sendiri,
biasanya kita dapat menyadari apa arti rasionalisasi ini yang merupakan suatu
pertahanan yang tidak dapat dipertahankan.
Kita harus
berusaha untuk mengembangkan kebiasaan kritis yang objektif dalam penelitian
seseorang yang merupakan salah satu karakteristik paling sulit dan penting dari
seorang sarjana sejati. Sebelum meminta nasihat dari orang lain, kita harus
menganalisis terlebih dahulu dengan kritikan sejauh yang diketahui, untuk
meyakinkan bahwa penelitian itu tepat dan memperoleh pengakuan yang layak dari
orang yang menolong kita, atau orang yang penelitiannya dikutip.
* Tidak
Menjadi Korban
Proses menjadi seorang ilmuwan, melalui
perolehan gelar penelitian dan kemudian dilanjutkan ke penelitian pascadoktor
yang bekerja sama dengan orang lain, harus menjadi salah satu periode yang
memacu, memuaskan, dan bermanfaat bagi hidup seseorang. Sebagian besar dari
kita tidak akan melupakan pengalaman tersebut, termasuk bantuan dan
persahabatan yang diterima dari penasihat penelitian dan dari mereka yang
memiliki harapan yang sama akan masa depan seperti kita. Sehubungan dengan hal
tersebut, ada ungkapan: “adanya beberapa apel jelek pada setiap pohon
tidak akan membuat kita untuk tidak memakan buah”.
Hal yang dapat menghancurkan atau mencegah timbulnya
perasaan umum tersebut dalam sekelompok ilmuwan/peneliti adalah persaingan (kompetisi)
yang berlebihan. Kompetisi merupakan bagian dari penelitian dan kesenangan.
Pada tingkat individu, kompetisi merupakan sesuatu yang tidak dapat dihindarkan
dan bahkan sehat. Kompetisi adalah sesuatu hal yang baik, tetapi kompetisi yang
berlebihan antarkelompok penelitian atau di antara individu-individu dalam satu
kelompok, menjadi hal yang berbeda. Keburukan lain adalah ketika satu kelompok
atau individu mengambil keuntungan dengan cara…… mencuri. Maka, perlu hati-hati
dan selektif dalam berdiskusi dengan ilmuwan lain untuk meminimalkan terjadinya
pencurian gagasan penelitian yang bisa saja terjadi pada saat diskusi itu.
Tetapi jangan juga terlalu berasumsi dari awal atau curiga bahwa
pencurian gagasan maupun data pasti terjadi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar